Wednesday, April 8, 2015

Buku The Next Evolution of Marketing - Tidak Ada Ide Baru di dalam Periklanan (atau, Apa yang Lama Adalah Baru)


Artikel bersambung ini diambil dari buku "THE NEXT EVOLUTION OF MARKETING" karya Bob Gilbrieth, pakar marketing internasional.

Buku ini membahas tentang cara memenangkan hati pelanggan dengan pemasaran jujur, bersahabat dan penuh makna.

Versi ebook dari buku ini sama sekali belum ada. Namun, buku ini sangat inspiratif dan mahal manfaatnya. Saya akan mengetiknya secara manual bagian perbagian setiap hari, insya Allah.

Apa yang ditampilkan di sini hanya untuk pembelajaran saja. Mohon beli buku aslinya untuk menghargai penulis. Terima kasih, Salam Berkah!



Saya pikir sebuah puisi dari Aude Lord adalah yang kali pertama berkata, “Tidak ada ide baru”. Tapi karena tampaknya sesuai, kebanyakan pemasar menganggap hal tersebut merupakan sebuah pepatan periklanan lama. Bagaimanapun juga, hal tu memang kenyataan dan merupakan dasar dari ide yang disebut sebuah model baru, tapi sebenarnya sudah cukup lama.
Ketika saya meninggalkan P&G pada tahun 2004 untuk bergabung dengan agensi periklanan (Bridge Worldwide) untuk kali pertama, saya menghabiskan beberapa malam untuk membaca karya-karya klasik demi mempersiapkan aspek karier saya yang baru ini. Bacaan kesukaan saya adalah Ogilvy on Advertising karya seorang legenda periklanan yang bernama David Ogilvy. Meskipun buku tersebut ditulis pada tahun 1983 yang berisi tentang pencapaian karier pada masa “Mad Man” tahun 1950-an dan 1960-an, tampak bahwa Ogilvy telah menerapkan pemasaran penuh makna ketika ayah saya masih mengenakan popok.
           
 “Ketika pemasaran berhasil, ia melampaui diskusi apa pun mengenai produk atau jasa”
-SETH Godin, Guru Pemasaran dan Penulis Terlaris

Pada tahun 1951, di usia 39, David Ogilvy membuat sebuah iklan cetak untuk Guinnes Stout yang merupakan tugas pertamanya sebagai pimpinan agensi miliknya. Itu pekerjaan yang sangat penting. Pada cetakan satu halaman penuh, Ogilvy menunjukkan sembilan jenis tiram, misalnya Cape Cods, Bluepoints dan Delaware Bays. Masing-masing yang dibuat dengan sempurna dan ditambahkan sebuah paragraf yang menjelaskan sejarah dan nuansa rasanya. Pada bagian atas, ada teks yang sangat jelas bertuliskan headline “Panduan Guinness Stout tentang Tiram”. Pada sudut kanan bawah terdapat foto sebotol Guinness dan gelas di sampingnya yang berjejer dengan pernyataan sederhana, “Setiap kerang akan memberikan cita rasa terbaik mereka ketika dibasuh dengan tetesan Guinness”. Tulisan yang bagus tersebut bahkan menawarkan untuk mengirimkan sebuah poster kepada siapa pun yang memintanya.
Hal tersebut tampaknya sederhana dan intinya adalah itu memang sederhana. Tapi tulisan iklan ini tidak meneriakkan “Belilah Guinness!” Ia lebih berperan sebagai rujukan daripada iklan produk, meskipun iklan tersebut dengan jelas bertujuan “menyarakan Guinness” dengan menawarkan informasi yang berguna kepada para pembaca. Iklan ini tidak menggembar-gemborkan berbagai keunggulan bir, tapi memberitahukan jenis-jenis binatang lunak seperti tiram. Sebelumnya, Ogilvy memahami bahwa periklanan haruslah terhormat (“Konsumen bukanlah orang bodoh; ia adalah istri Anda”). Dia juga paham bahwa periklanan harus dapat menjual produk (“Jika ia tidak bisa menjual, berarti ia tidaklah kreatif”). Sebagai pemasar, kita berharapan tinggi terhadap hasil kerja kita (“Jangan mengayun pelan-pelan. Berusahalah mengirim bola ke luar lapangan. Berharaplah bahwa usaha Anda akan menghasilkan yang terbaik”).
Lebih dari lima puluh tahun sejak ia dibuat, iklan Guiness karya Ogilvy secara historis telah memberikan contoh sederhana dan anggun dari pemasaran penuh makna kepada yang lainnya. Ibu mertua saya punya bingkai berisi gambar iklan Goetz Beer dari tahun 1950-an yang menggambarkan pemandangan dan penunjuk jalan di berbagai kota sepanjang U.S. Route 36 (dari Hannibal, Missouri hingga Denver, Colorado). Lemari es dan oven elektrik pertama muncul dengan buku resep tambahan untuk membantu pembeli pelajar bagaimana memasak dengan perlengkapan baru mereka. Pada tahun 1920-an, dalam iklan kesetiaan pertama yang pernah tercatat, setiap orang yang membeli Betty Crocker mendapatkan stemple. Setelah dikumpulkan, stempel itu bisa ditukar dengan perlengkapan perak gratis di pasar swalayan.
Salah satu contoh sejarah terbaik dari pemasaran penuh makna yang masih relevan hingga hari ini adalah Michelin Guide. Pemasaran itu terjadi pada pergantian menuju abad dua puluh dan merupakan awal revolusi kendaraan bermotor. Michelin memproduksi ban, sebuah komoditas yang telah lama ada. Mereka tahu bahwa mereka perlu mencari jalan supaya tetap unggul di antara para pesaing yang hampir identik di dalam pasar yang dinamis.
Jadi pada tahun 1900, Andre Michelin punya ide untuk memproduksi dan menyebarkan panduan perjalanan pertama untuk para pemilik mobil di Prancis. Panduan perjalanan tersebut juga dilengkapi dengan petunjuk lokasi perawatan mobil, tempat menginap, kamar kecil dan restoran. Panduan gratis itu tidak hanya menimbulkan kesadaran merek terhadap produk Michelin dan kesetiaan dari para pelanggannya, tapi juga menimbulkan keberanian bagi para pengendara baru. Dengan demikian, mereka bisa mengendara dengan lebih percaya diri dan lebih sering. Puncak dari semuanya adalah orang-orang menggunakan ban keluaran mereka!
Ketenaran buku panduan Michelin tumbuh secara stabil dari waktu ke waktu. Pada tahun 1920, Andre Michelin mulai membebankan biaya atas buku panduan tersebut untuk menghilangkan kesan bahwa buku panduan gratis tersebut tidak bernilai. Pada beberapa tahun berikutnya, sistem peringkat restoran bintang tiga diperkenalkan, dan buku panduan tersebut dicetak dalam bahasa yang berbeda untuk negara yang berbeda. Pada saat ini, sebagai pelengkap dari edisi Eropa yang masih beredar, dibuat juga buku panduan Michelin untuk San Fransisco, New York City, Las Vegas dan Tokyo.
Pengesahan dari buku panduan Michelin menjadi sangat signifikan, bahkan sering berpengaruh terhadap meningkat atau menurunnya karier seorang juru masak pada suatu restoran. Pengesahan yang diberikan Michelin menandakan mutu, konsistensi dan kesempurnaan masakan dan akomodasi.

Semua itu adalah atribut yang jarang sekali dikaitkan dengan produsen ban. Saat ini, Michelin tetap memperoleh keuntungan sebuah pemasaran penuh makna cemerlang yang ditanamkan oleh pendirinya lebih dari seratus tahun lalu. Di luar “tujuan penjualan” aslinya supaya pengendara membeli lebih banyak ban, buku panduan tersebut membangun kesadaran merek dan ketertarikan pelanggan dengan menawarkan nilai serta pelayanan yang sesungguhnya. Hal ini terpisah dari pembelian demi mempertahankan kesetiaan dan menarik konsumen baru bagi Michelin. Kesuksesan mereka pun tidak melibatkan selebritis atau mengganggu pertandingan futbol.

Share to

Facebook Google+ Twitter Digg