Saturday, April 25, 2015

Abstraksi - Analisis Semiotik Restoran Jepang di Yogyakarta



Pengakuan akan zaman yang semakin global, kini tak dapat dipungkiri lagi. Hal ini dapat dilihat melalui mobilitas manusia dari satu tempat ke tempat lain yang semakin meningkat. Mobilitas tersebut baik dalam rangka formal, maupun informal sering kali membutuhkan beberapa fasilitas, seperti transportasi, penginapan, dan konsumsi. Oleh karenanya, sering kali ditemukan rumah makan unggulan di beberapa kota wisata. Keberadaan rumah makan menjadi urgent, tak lain untuk memenuhi kebutuhan primer masyarakat sekitar, dan tentunya para pengunjung kota tersebut.

Rumah makan terikat oleh berbagai faktor. Ada pun faktor lokasi, rumah makan yang berada di kota wisata, tentu berbeda dengan rumah makan yang berlokasi di kota biasa. Rumah makan yang berada di lingkungan etnis cina, akan berbeda dengan rumah makan yang berada di lingkungan etnis jawa. Rumah makan juga mampu mengikat beberapa elemen, misalnya para pengunjung. Pengunjung yang datang ke rumah makan pasta akan berbeda dengan pengunjung yang berkunjung pada rumah makan bakso.
Era globalisasi tidak hanya meningkatkan mobilitas manusia, namun mobilitas budaya turut meningkat. Budaya suatu daerah kini dapat ditemukan di daerah lain. Bahkan budaya suatu negara kini mampu ditemukan di negara lain. Hal ini mengingat hilangnya border antara satu negara dengan negara lain pada era globalisasi.  
Rumah makan jepang merupakan salah satu fenomena globalisasi, konsep rumah makan jepang kerap ditemukan di beberapa negara dan kota. Rumah makan jepang dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya dalam memanfaatkan budaya jepang telah mampu bertahan hingga kini. Hal ini tentu tak lepas dari ancaman yang telah mampu dihadapi serta peluang yang dapat diambil.
Dalam penelitian ini akan diungkap bagaimana cara rumah makan memanfaatkan peluang dalam hal ini kebudayaan jepang, bagaimana cara-cara rumah makan melakukan proses representasi, menstrukturkan dan mengkonstruksikan ide-ide gagasan-gagasannya untuk mewujudkan identitasnya melalui kebudayaan jepang yang ternyata mampu memberikan sebuah perspektif pandangan baru dalam mengkonsumsi makanan sebagai agenda subversi atas rumah makan yang lain. Mengkonsumsi makanan tidak hanya masakan Indonesia, akan tetapi juga terdapat makanan jepang dengan segala konteksnya. Dalam analisis rumah makan jepang secara service, membahas suatu bentuk penggunaan bahasa/peristiwa/pesan yang semuanya mengandung kebudayaan tertentu bagi setiap pelanggan yang memaknai rumah makan jepang. Tanda-tanda tersebut akan dianalisis antara lain mengenai bentuk-bentuk mitos, power, ideologi, dan komoditi, sebuah rumah makan. Disini ada tiga rumah makan jepang yang akan dianalisis diantaranya: Sushi Tei, Hakone Ramen, dan Nagoya.
Penelitian ini menggunakan semiotika untuk membedah serta mengetahui cara-cara bagaimana segala sesuatunya bekerja. Penggunaan metode semiotika merupakan metode yang diambil oleh peneliti dengan maksud menangkap makna budaya jepang melalui tanda-tanda yang memberikan kode pada setiap tanda yang ada pada rumah makan, maka dapat diambil kesimpulan pada representasi budaya jepang yang dimunculkan oleh rumah makan tersebut. Analisis tanda-tanda dilanjutkan pada tahap denotasi dan konotasi, kemudian dilanjutkan pada tahap analisis mitos budaya jepang yang ideal menurut rumah makan tersebut. Keidealan budaya jepang dapat digambarkan melalui ciri-ciri fisik dan perilaku pelayan sebagai service rumah makan.
Hasil analisis nantinya akan menjelaskan dan menjabarkan bagaimana segala sesuatunya dalam rumah makan Jepang ini bekerja serta bagaimana intepretasi masyarakat terhadap rumah makan yang nantinya mungkin dapat berguna dan menambah pengetahuan tentang khasanah dunia rumah makan di Indonesia.


Share to

Facebook Google+ Twitter Digg