Pengakuan
akan zaman yang semakin global, kini tak dapat dipungkiri lagi. Hal ini dapat
dilihat melalui mobilitas manusia dari satu tempat ke tempat lain yang semakin
meningkat. Mobilitas tersebut baik dalam rangka formal, maupun informal sering
kali membutuhkan beberapa fasilitas, seperti transportasi, penginapan, dan
konsumsi. Oleh karenanya, sering kali ditemukan rumah makan unggulan di beberapa
kota wisata. Keberadaan rumah makan menjadi urgent,
tak lain untuk memenuhi kebutuhan primer masyarakat sekitar, dan tentunya para
pengunjung kota tersebut.
Rumah
makan terikat oleh berbagai faktor. Ada pun faktor lokasi, rumah makan yang
berada di kota wisata, tentu berbeda dengan rumah makan yang berlokasi di kota
biasa. Rumah makan yang berada di lingkungan etnis cina, akan berbeda dengan
rumah makan yang berada di lingkungan etnis jawa. Rumah makan juga mampu
mengikat beberapa elemen, misalnya para pengunjung. Pengunjung yang datang ke
rumah makan pasta akan berbeda dengan pengunjung yang berkunjung pada rumah
makan bakso.
Era
globalisasi tidak hanya meningkatkan mobilitas manusia, namun mobilitas budaya
turut meningkat. Budaya suatu daerah kini dapat ditemukan di daerah lain.
Bahkan budaya suatu negara kini mampu ditemukan di negara lain. Hal ini
mengingat hilangnya border antara
satu negara dengan negara lain pada era globalisasi.
Rumah
makan jepang merupakan salah satu fenomena globalisasi, konsep rumah makan
jepang kerap ditemukan di beberapa negara dan kota. Rumah makan jepang dengan
berbagai kelebihan dan kekurangannya dalam memanfaatkan budaya jepang telah
mampu bertahan hingga kini. Hal ini tentu tak lepas dari ancaman yang telah
mampu dihadapi serta peluang yang dapat diambil.
Dalam
penelitian ini akan diungkap bagaimana cara rumah makan memanfaatkan peluang dalam
hal ini kebudayaan jepang, bagaimana cara-cara rumah makan melakukan proses representasi,
menstrukturkan dan mengkonstruksikan ide-ide gagasan-gagasannya untuk
mewujudkan identitasnya melalui kebudayaan jepang yang ternyata mampu
memberikan sebuah perspektif pandangan baru dalam mengkonsumsi makanan sebagai
agenda subversi atas rumah makan yang lain. Mengkonsumsi makanan tidak hanya masakan
Indonesia, akan tetapi juga terdapat makanan jepang dengan segala konteksnya. Dalam
analisis rumah makan jepang secara service,
membahas suatu bentuk penggunaan bahasa/peristiwa/pesan yang semuanya
mengandung kebudayaan tertentu bagi setiap pelanggan yang memaknai rumah makan
jepang. Tanda-tanda tersebut akan dianalisis antara lain mengenai bentuk-bentuk
mitos, power, ideologi, dan komoditi, sebuah rumah makan. Disini ada tiga rumah
makan jepang yang akan dianalisis diantaranya: Sushi Tei, Hakone Ramen, dan Nagoya.
Penelitian
ini menggunakan semiotika untuk membedah serta mengetahui cara-cara bagaimana
segala sesuatunya bekerja. Penggunaan metode semiotika merupakan metode yang
diambil oleh peneliti dengan maksud menangkap makna budaya jepang melalui
tanda-tanda yang memberikan kode pada setiap tanda yang ada pada rumah makan,
maka dapat diambil kesimpulan pada representasi budaya jepang yang dimunculkan
oleh rumah makan tersebut. Analisis tanda-tanda dilanjutkan pada tahap denotasi
dan konotasi, kemudian dilanjutkan pada tahap analisis mitos budaya jepang yang
ideal menurut rumah makan tersebut. Keidealan budaya jepang dapat digambarkan
melalui ciri-ciri fisik dan perilaku pelayan sebagai service rumah makan.
Hasil
analisis nantinya akan menjelaskan dan menjabarkan bagaimana segala sesuatunya
dalam rumah makan Jepang ini bekerja serta bagaimana intepretasi masyarakat
terhadap rumah makan yang nantinya mungkin dapat berguna dan menambah
pengetahuan tentang khasanah dunia rumah makan di Indonesia.

Share to
Facebook Google+ Twitter Digg