Sunday, March 29, 2015

Buku The Next Evolution of Marketing - Bagian I

Artikel bersambung ini diambil dari buku "THE NEXT EVOLUTION OF MARKETING" karya Bob Gilbrieth, pakar marketing internasional.

Buku ini membahas tentang cara memenangkan hati pelanggan dengan pemasaran jujur, bersahabat dan penuh makna.

Versi ebook dari buku ini sama sekali belum ada. Namun, buku ini sangat inspiratif dan mahal manfaatnya. Saya akan mengetiknya secara manual bagian perbagian setiap hari, insya Allah.

Apa yang ditampilkan di sini hanya untuk pembelajaran saja. Mohon beli buku aslinya untuk menghargai penulis. Terima kasih, Salam Berkah!





BAGIAN I

MENGAPA PEMASARAN TRADISIONAL ITU TAK BERMAKNA
DAN MENGAPA EVOLUSI PEMASARAN SANGAT DIPERLUKAN

Ada Di Mana-Mana dan Mengganggu

Mereka ada di stasiun pengisian bahan bakar, pintu stadion sepak bola, atau pagar kandang peternakan domba sepanjang jalan raya di Belanda. Karena mereka di setiap tempat, mengejutkan ketika tak seorang pun menyadari bahwa konsumen saat ini didatangi oleh rata-rata 3.000 iklan perhari dengan biaya lebih dari $244 Milyar. Meskipun (atau mungkin lebih tepatnya akibat upaya tersebut) upaya terbaik kita kerahkan untuk menggunakan media sebagai sarana untuk melambungkan penjualan, konsumen telah belajar untuk paling tidak mengabaikan sebagian besar upaya pemasaran kita. Paling buruknya adalah mereka membencinya.

Apakah Anda berpikir bahwa saya berlebihan? Angka tidak berbohong. Sebuah survei gabungan yang dilakukan oleh AdWeek  dan agensi periklanan J. Walter Thompson pada tahun 2007 mengungkapkan sebanyak 84% orang meyakini, “Sekarang ada terlalu banyak hal yang berlebihan.” Sebesar 72% mengaku, “Jemu kepada orang-orang yang mencoba untuk menjual produk kepada saya.”

Hal tersebut tidak sulit untuk dibayangkan karena beberapa perusahaan selalu berusaha untuk memasuki segala ruang, bahkan ruang kita yang paling sakral sekalipun, dengan iklan mereka. Sebuah perusahaan yang dapat disebut Mangia Media menjual iklan pada karton pizza, menghubungkan dengan konsumen “sampai ke tangan mereka, sampai ke rumah mereka”. Perusahaan lainnya menjual ruang iklan pada ruang pamer yang mengapung di tepi danau dan pantai. Ah, keindahan alam terbuka yang mengagumkan, dihadirkan kepad Anda oleh Principal Financial Group.

Beberapa perusahaan melangkah lebih jauh dengan menggunakan apa yang mereka anggap sebagai perikalan “inovatif” untuk menjaga agar bisnis mereka tetap mengudara. Ambil perusahaan penerbangan sebagai contoh. Perusahaan penerbangan yang sedang mengalami masalah menggunakan captive audience mereka untuk menerima pendapatan dari pemasangan iklan seperti ­Hewlett-Packard, Microsoft dan ING. Ketika pramugari penerbangan tersebut memindahkan minuman gratis dan bungkus kacang dari meja Anda, mereka menyisipkan iklan di atasnya.

Ketika ruang putih pada pintu bagasi kompartemen, serbet dan kantong mabuk udara telah diambil, Anda dapat membeli ruang di luar jendela. Suatu bentuk baru dari periklanan yang dinamakan Ad-Air telah membeli atau menyewa real estate senilai $10.000 di sebelah lapangan terbang dan akan menyewakan ruang kepada Anda berupa salah satu dari 30 slot di sekitar bandara dengan harga $100.000 perbulan. Sebuah perusahaan real estate di Dubai merupakan yang kali pertama menempatkan iklan seukuran dua kali lapangan bola yang memecahkan rekor pada Guinness World Record untuk kategori ukuran spanduk. Bahkan Administrasi Keamanan Transportasi juga turut serta dalam permainan tersebut dengan memasang iklan pada kotak keamanan plastiknya.


Bisnis lainnya yang sedang bermasalah, televisi jaringan, tidak hanya mengambil keuntungan dari captive audience mereka untuk mengiklankan produk dan jasa selama jeda komersial, tapi juga memanfaatkan ruang yang tersisa selama program berlangsung untuk menayangkan pop-up advertisement. “Snipes” adalah nama grafik yang merambat di layar dan di sekeliling penglihnatan Anda ketika berusaha untuk menikmati tayangan apa pun yang sedang Anda saksikan. Lewis Black mungkin merupakan perwujudan terbaik dari rasa frustasi masyarakat terhadap snipes saat memberikan komentar selama tiga menit dalam Emmys pada bulan Oktober 2007.

                                Tugas Anda menyampaikan cerita, bukan menyampaikan kepada kami di tengah cerita tersebut tentang apa yang akan ditayangkan selanjutnya atau apa yang akan diluncurkan perdana pada dua munggu kemudian! Apa yang Anda inginkan untuk saya lakukan? Berhenti, mengambil pensil dan menulisnya?

Mungkin karena sepanjang waktu mendapatkan peringkat yang rendah, Fox mengambil tindakan selangkah lebih maju ketika ia mengudarakan World Series 2007 di antara Rockie dan Red Sox. Dalam siarannya untuk memasuki Permainan Kedua, di awal memasuki inning ke tujuh, waktu yang biasanya digunakan untuk pemanasan dan menyanyikan lagu “Take Me Out to The Bell Game”. Pembawa acara dari stasiun TV Fox, Joe Buck malah mengajak audiens untuk melihat layar raksasa yang beresolusi tinggi pada kilasan DirectTV untuk ulasan khusus tentang musim baru serial 24.

Pendekatan mengganggu dari pemasaran tradisional juga menjalar secara global. Business Week baru-baru ini melaporkan hadirnya pengusaha berusia 35 tahun, Jason Jiang. Dia adalah hartawan baru dalam bidang periklanan dari Tiongkok yang membangun perusahaan senilai $6 miliar dalam lima tahun dengan memasang 190.000 video iklan di 90 kota. Bisnis ini sangat baik bagi Jiang. Sekarang dia memiliki bisnis bernilai $1,8 miliar dan terus meningkat seiring dengan persaingan merek global untuk memenuhi ruang iklan pada jaringan yang dimilikinya dengan harapan dapat memenangkan persaingan di negara dengan perekonomian terpanas tersebut.

“Saya sangat lapar dan ambisius,” ungkap Jiang. Dia ingin memasang layar di mana-mana. “Saya melihat masa keemasan Periklanan. Saya merasa 1 miliar konsumen Tiongkok harus bersiap untuk pengaruh 3 triliun iklan setiap hari. Apakah ini benar-benar jenis kontribusi kebudayaan yang harus kita ekspor?

Tidak Relevan dan Tidak Menyenangkan

Permasalahannya bukan hanya bahwa kita menyampah kepada masyarakat setiap hari dengan berbagai cara. Ratusan miliar dolar dihambur-hamburkan setiap tahun untuk pemasaran yang benar-benar meleset dari pangsa pasarnya. Lebih buruk lagi, pesan disampaikan kepada seseorang yang bahkan akan merasa dipaksa untuk membeli. Ketika seorang wanita yang memelihara kucing merasa terganggu dengan iklan untuk makanan anjing, atau ketika seorang pria dipaksa untuk melihat billboard yang mengiklankan pembalut wanita, kedua iklan tersebut hanya akan membuang-buang uang, bahkan akan mendapatkan kesan yang salah.

Ini bukan hanya tentang iklan kita yang sampai di orang yang salah. Bahkan konsumen yang “benar” atau yang memang menjadi sasaran sekalipun sering merasa bahwa iklan kita tidak relevan dan tidak ada tanggapan yang harus mereka lakukan setelah melihat karya kreatif tadi. Satu alasan mendasarnya adalah gangguan itu sendiri memang tidak relevan. Ketika tiba-tiba ada jeda saat kegiatan tertentu sedang berlangsung, kita dilatih untuk melihat kejadian sebelum gangguan itu dan merangkum apa pun yang kita lakukan, pikirkan atau saksikan sebelumnya. Sebuah studi yang dilakukan oleh Moshe Bar, direktur Laboratorium Pengenalan Syaraf terhadap Ransangan Visual di Sekolah Kedokteran Harvard menunjukkan bahwa ketika kita memaksa audiens untuk menyaksikan iklan, sebenarnya kita sedang mencederai hasil akhir penjualan kita. Inilah kata-kata Bar.

                                Eksperimen psikologi kognitif menunjukkan bahwa ketika orang harus mengabaikan sebuah rangsangan ketika sedang berusaha mencapai tujuan lain, mereka tidak hanya akan merasa terganggu, tapi juga menjadi sangat tidak menyukai pengalihan tersebut. Ketidaksukaan ini sangat spesifik terhadap rangsangan itu. Jadi ketika saya tertarik untuk mengetahui skor akhir pertandingan Red Sox, namun dipaksa untuk menyaksikan iklan Merlot First, akan timbul rasa tidak suka terhadap merek itu, sehingga muncul efek sebaliknya dari apa yang diinginkan pengiklan.

Alasan lain yang menyebabkan iklan tradisional menjadi tidak relevan adalah kebanyakan dari kita telah mempunyai pola kehidupan tersendiri, demikian juga dengan pola pembelian. Kita sudah cukup puas dengan mobil yang kita kendarai, deodoran yang akan kita gunakan dan perusahaan asuransi jiwa yang kita kirimi cek setiap bulannya. Beberapa orang mungkin tidak sependapat. Namun berdasarkan pengalaman saya, tidak ada satu pun upaya “mengatakan dan menjual” sepihak yang dapat menembus hati konsumen yang telah mengeras. Biasanya, konsumen sendiri yang menemukan alasan kuat untuk beralih bank, tisu toilet atau makanan anjing. Sering kali perlu lebih dari satu situasi yang mengecewakan supaya seseorang termotivasi untuk menghabiskan waktu dan tenaga agar mau beralih. Ya, bahkan mengubah merek makanan anjing sekalipun memerlukan pertimbangan.

Di atas ketidakrelevanan tersebut, tampaknya ada banyak inovasi periklanan yang diciptakan untuk menembus kerumunan di pasar, tapi malah menjadi bumerang. Ia hanya berhasil menyerang pihak yang ingin dikalahkan oleh perusahaan dengan upaya yang pantas diberi penghargaan Clio mereka. Penjual pakaian musim dingin yang memasang iklan pada pembersih salju kota dan perusahaan farmasi yang mencantumkan semboyan mereka pada kertas tisu yang menutupi meja periksa dokter nampaknya tidak terlalu membahayakan.

Akan tetapi, apa yang harus ditanggung McDonald’s terhadap biaya cetak kartu laporan untuk sekolah sebagai imbalan dari hak menghadirkan kupon Happy Meal pada sampulnya? Tidak terlalu banyak. Hanya lebih dari 2.000 orang tua murid di Seminole, Florida yang marah dan protes. Akibatnya, program McDonald’s tersebut harus segera dihentikan, meskipun uang sejumlah $1.600 telah ditambahkan untuk anggaran sekolah yang harus diakui memang sangat terbatas.

Di kota New Yord, masyarakat menentang sebuah iklan untuk program baru A&E Network, Paranormal State, yang menggunakan pengeras suara hypersonic untuk menggemakan pesan kepada orang-orang yang lewat melalui sudut Prince and Mulberry Street di sekitar wilayah modern SoHo, Manhattan. Penduduk San Fransisco mengeluhkan aroma kue yang muncul dari iklan “Got Milk?” di perhentian bus. Mereka berkata aroma tersebut dapat menyebabkan alergi atau serangan asma pada orang yang sensitif terhadap bau. Badan Pengolah Susu California menarik iklan tersebut hanya setelah satu hari.

Pada bulan Januari 2007, ada kampanye pemasaran gerilya untuk acara Cartoon Network yang berjudul Aqua Teen Hunger Force. Kampanye ini menyebabkan Kota Boston harus mengumumkan peringatan terjadinya teror setelah polisi salah mengenali alat elektronik kecil (sebenarnya mainan LITEBRITE) yang ditemukn di beberapa sisi kota sebagai alat yang dapat memicu ledakan. Warga Boston yang terjebak kemacetan tidak berhasil memahami tujuan dari kampanye yang cerdik tersebut. Menurut Associated Press, perusahaan induk Turner Broadcasting membayar $2 juta kepada jaksa untuk menyelesaikan tuduhan perdata atau pidana. CEO Cartoon Network mengundurkan diri tidak lama setelah kejadian tersebut. Itulah apa yang saya sebut sebagai iklan yang menjadi bumerang.

Pada kenyataannya, iklan yang dimuat secara tradisional dalam sebuah siaran sering kali berhasil menyerang masyarakat, bahkan ketika kita sebagai pemasar tidak bermaksud demikian. Setiap ras, jenis kelamin, dan orientasi seksual telah merasakan sengatan dari gurauan yang bodoh dan mengidentikkan diri mereka melalui periklanan. Tampaknya sekarang pun setiap orang telah bersiap-siap untuk melompat ke benteng pertahanan ketika periklanan mulai mengancam wilayah sakral mereka.

Ketika saya bekerja untuk merek Tide di P&G, kami membuat iklan cetak untuk produk tablet baru kami yang mengatakan, “Tablet Terbaik Sejak Musa Kembal dari Gunung Sinai”. Itu merupakan rujukan klasik yang kami kira akan membuat semua orang tersenyum. Akan tetapi, kami salah. Ada 10 orang menelepon untuk memprotes pernyataan iklan tersebut karena kami dinilai menggunakan rujukan ahgama dengan tidak sopan. Kami pun terpaksa menarik iklan tersebut. Ketika GM menampilkan robot mimpi memasuki alam kematiannya selama perhelatan Super Bowl (kejuaraan futbol AS) pada tahun 2006, Yayasan Amerika yang bergerak di bidang pencegahan bunuh diri segera melayangkan keberatan terhadap pesan tersebut.

Untuk mengubah persepsi pasar terhadap obat pencahar bagi warga usia baya, Metamucil meluncurkan iklan yang menekankan manfaat dari terapi serat harian dan dilengkapi dengan hasil studi kesehatan untuk mendukungnya. Iklan tersebut menampilkan wanita tiga puluh tahunan yang tampak sehat dengan tajuk utama “Percantik Sisi Dalam Anda”. Namun merek tersebut dituduh mendorong dan mengambil manfaat dari masalah berkurangnya berat badan yang berlebihan.

Bahkan sekelompok terakhir yang dapat dengan aman dijadikan bahan lelucon pun melancarkan serangan baliknya. Sebuah kelompok yang disebut Father & Husband secara rutin memprotes iklan yang mengejek pria kulit putih.

Hebatnya, sekarang protes sangat sering muncul, bahkan ketika pemasar melakukan sesuatu yang sangat sederhana. Pada akhir tahun 2008, Toyota menerbitkan pinjaman tanpa bunganya dengan iklan yang menggunakan lagu “Saved By Zero” dari band tahun 1980-an, The Fixx. Lagu itu tidak digarap ulang dengan baik. Setelah iklan tersebut diputar belasan kali pada pertandingan sepak bola antarkampus, kelompok pemrotes yang paling tidak beranggotakan 9.000 orang tiba-tiba muncul di Facebook. Tentu saja itu angka yang sedikit tapi kelompok tersebut mendapat liputan dari majalah Time., Wall Street Journal, dan blog terkenal yang bernama Jalopnik. Sekarang tampaknya Anda bahkan tidak dapat menembus poin peringkat yang Anda inginkan tanpa berisiko mendapatkan publisitas yang buruk!

Hasil dari semua ini? Para pemasar yang terlalu peka ini diawasi secara seksama oleh departemen PR dan legal mereka yang konservatif. Mereka membuat bauran periklanan yang tidak menarik perhatian dan tidak memecahkan masalah yang dihadapi oleh produk.

Akan tetapi, hal tersebut bahkan bukan merupakan masalah yang sebenarnya.


Masalah yang sebenarnya bukanlah masyarakat membenci pemasaran atau kebanyakan pemasaran tradisional yang saat ini ada di mana-mana, tidak efektif, mengganggu atau/dan bodoh. Ini juga bukan karena kita menghabiskan 50% atau lebih biaya kita untuk pemasaran massal yang tidak tepat sasaran dan setiap orang membuat jengkel. Anda dapat berargumen bahwa periklanan selalu melakukan hal ini.

Tokoh-tokoh bersejarah telah menorehkan banyak tinta untuk mencemooh profesi kita. Mark Twain berkata, “Ada banyak hal kecil yang telah dibesar-besarkan oleh periklanan.” Hingga penjaja puding es krim Bill Cosby berkata, “Hukum peruklanan yang paling pertama adalah menghindari janji yang nyata dan membangkitkan kebahagiaan semu.”Meskipun tidak menyenangkan, pemasaran “tradisional” dapat berhasil secara “tradisional” karena sebagian kecil orang yang melihat atau mendengar periklanan tersebut akhirnya membeli cukup banyak produk untuk membayar periklanan yang berikutnya.

Namun tidak ada yang akan bertahan selamanya. Masalah yang sebenarnya adalah konsumen telah berubah, baik dalam pendekatan yang mereka harapkan dari pemasaran, maupun alat yang mereka gunakan untuk menghindarinya. Saat ini mereka berkekuatan untuk mengendalikan apa yang boleh memasuki mata dan telinga mereka. Sebagian besar dari 3.000 pesan yang kami sampaikan setiap hari tidak mampu mencapai sasarannya.

Share to

Facebook Google+ Twitter Digg