Artikel bersambung ini diambil dari buku "THE NEXT EVOLUTION OF MARKETING" karya Bob Gilbrieth, pakar marketing internasional.
Buku ini membahas tentang cara memenangkan hati pelanggan dengan pemasaran jujur, bersahabat dan penuh makna.
Versi ebook dari buku ini sama sekali belum ada. Namun, buku ini sangat inspiratif dan mahal manfaatnya. Saya akan mengetiknya secara manual bagian perbagian setiap hari, insya Allah.
Apa yang ditampilkan di sini hanya untuk pembelajaran saja. Mohon beli buku aslinya untuk menghargai penulis. Terima kasih, Salam Berkah!
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
PENDAHULUAN
BAGIAN I
APA ITU PEMASARAN YANG BERMAKNA?
1.
MENGAPA PEMASARAN TRADISIONAL ITU TAK BERMAKNA
2.
APA YANG DAPAT DILAKUKAN PEMASARAN YANG BERMAKNA UNTUK ANDA
3.
SOLUSI PENUH MAKNA
4.
HUBUNGAN PENUH MAKNA
5.
PENCAPAIAN PENUH MAKNA
BAGIAN II
BAGAIMANA MENERAPKAN PEMASARAN YANG BERMAKNA DI DALAM BISNIS
ANDA
6.
MULAILAH DARI TITIK AKHIR
7.
TANYAKAN SAJA
8.
MENGHASILKAN IDE, MENYUSUN PERINGKAT DAN MENEMBAKKANNYA
9.
MENGUKUR, MENYESUAIKAN DAN TERUS TUMBUH
10.
MASA DEPAN PEMASARAN YANG BERMAKNA
EPILOG
MENAMBAHKAN MAKNA KE DALAM HIDUP ANDA
CATATAN AKHIR
KATA PENGANTAR
Setiap kali teman-teman dan kolega-kolega
saya mendengar bahwa saya sedang mengerjakan sebuah buku, pasti mereka terkejut
karena saya masih punya waktu serta tenaga untuk mewujudkannya. Memang benar,
di tengah kesibukan dalam pekerjaan, saya harus meluangkan waktu dan tenaga
selama lebih dari dua tahun untuk menyelesaikan buku ini.
Jika menengok ke belakang, itu merupakan
proyek terbesar yang pernah saya kerjakan di dalam hidup saya. Rasanya seperti
maraton mental yang memerlukan latihan tahunan dan upaya yang sangat kuat,
sehingga saya mampu menulis sekaligus bekerja seharian penuh sepanjang tahun di
dalam bisnis yang sedang tumbuh dan berubah dengan sangat cepat. Akan tetapi,
sebagaimana yang akan disetujui oleh para pemaraton lainnya, ada banyak teman,
keluarga dan orang yang saya temui sepanjang perjalanan. Mereka telah memberi
saya kekuatan dan dukungan untuk menyelesaikan langkah ini.
Pertama, saya harus sangat berterimakasih
kepada “tim buku” saya yang telah bekerja sangat intens bersama saya selama
berbulan-bulan untuk menghasilkan karya yang Anda pegang ini. Saya mulai
bekerja bersama wakil saya, Lisa Dimona, hampir dua tahun yang lalu. Terima
kasih juga saya ucapkan kepada anggota-anggota tim dari McGraw Hill, yaitu
Mary-Glenn, Donya Dickerson, Heather Cooper, Jane Palmieri dan Stachi Sands.
Selain itu, Mark Fortier merupakan pemandu yang sangat luar biasa sebagai orang
yang berjaga di barisan PR. Terima kasih yang sangat istimewa saya ucapkan
untuk editor saya yang bernama Lauren Rowland.
Pihak lainnya yang telah membantu
mewujudkan mimpi ini adalah teman terbaik saya sejak menjadi mahasiswa tingkat
awal di Duke University dan saat ni menjadi bos saya di Bridge Worldwide, yaitu
Jay Woffington. Dia tidak hanya menantang saya untuk mewujudkannya, namun juga
mendukung saya selama untuk mewujudkannya, namun juga mendukung saya selama
pengerjaan buku ini yang telah mengalihkan perhatian terhadap pekerjaan harian
saya.
Saya juga banyak mengucapkan terima kasih
kepada tim eksekutif lainnya di Bridge Worldwide. Ada Peter Schwartz, Michael
Graham, Steve Wolf, Michael Wilson, Jodi Schmidtgoesling dan Jason Ruebel.
Ada sangat banyak orang lainnya di Bridge
Worldwide yang telah membantu saya menghadirkan konsep dan buku ini di pasar.
Maka saya berterima kasih kepada Alex Rofles, Shannon Lanner, Erik Shrewsberry,
Carole Amend, Taylor Clone, Marc Connor, Tiffany Brunning, Tracey Dye, Ryan
Kolbe, Brad Mahler, Sarah Medley, John Sticweh, Jason Van Cleave, Chris
Zievrink, Debbie Effler, Don Huesmen, James Marable, Jared Bauer, Ian “Trey”
Dahlman, David Shepperd, Margaret Russo, Becky Gruebmeyer, Dennis Chacon,
Gretchen Conner, Ray Seguin, Jessi Link, Nick Schultz, Brad Lark, dan Rebekah
Kluesener. Saya juga harus berterima kasih kepada dua karyawan “tidak resmi”
Bridge, yaitu Carolyn Hennesy dan Teresa Litzler, yang telah mengubah ide ini
menjadi kekuatan pendorong bagi perusahaan kami.
Sebagai tambahan untuk keluarga dekat
Bridge Worldwide, saya berutang banyak terima kasih kepada induk perusahaan
kami, WPP yang menjadi besar berkat pemimin kami yang hebat yaitu Sir Martin
Sorrel. Terima kasih yang istimewa kepada Tamara Ingram (Pimpinan Tim WPP’s
untuk P&G), dan para penulis di WPP seperti John Steel (Truth, Lies and Advertising dan The Perfect Pitch), Allen Adamson (Brand Simple dan Brand Digital), Shane Atchison (Actionable
Web Analytics), David Nichols (Brands
and Gaming), Jim Taylor (Space Race),
John Gerzema (The Brand Bubble) dan
Nigel Hollis (The Global Brand).
Tentu saja terima kasih juga untuk Lee
Aldridge, Landor, Richard Wastendorf bersama timnya, juga Ryan Turner, Gilad
Kat, dan Maria Mandel yang telah berbagi dalam memberikan contoh dari
pengalaman mereka tentang pemasaran penuh makna.
Ada
juga rekan mahir lainnya yang turut berkontribusi di dalam projek ini. Kevin
Doohan (Red Bull), Jim Stengel dan
Matt Carceri (Procter & Gamble),
Sanjay Puligadda (periset dari Miami University).
Saya pun akan selalu menghargai dorongan
dari Jory Des Jardin, pendiri dan presiden BlogHer, yang telah melihat
presentasi saya mengenai konsep ini di Athena, Yunani, 2007. Itu merupakan kali
pertama saya berbagi ide di konferensi publik. Ketika ia berkata bahwa itu
merupakan salah satu presentasi terbaik yang pernah dilihatnya, saya merasa
bahwa kami berkesempatan untuk membuatnya menjadi besar.
Terima kasih terdalam saya tujukan kepada
keluarga saya atas dukungan mereka selama bertahun-tahun. Saya berharap saya
telah membuat mereka bangga dengan karya ini.
Akhirnya
saya mengucapkan terima kasih kepada Anda, para pembaca karena telah memahami
kebutuhan akan perubahan. Semoga bisnis Anda menjadi lebih baik, dan karier
serta kehidupan Anda menjadi lebih bermakna. Jika Anda memerlukan bantuan lebih
lanjut, jangan segan untuk menghubungi saya melalui www.marketingwithmeaning.com
PENDAHULUAN
PENCARIAN
ARTI
“Apa
yang sangat kita butuhkan adalah perubahan pola pikir, supaya kita tetap
relevan dengan konsumen masa kini. Kita harus bergeser dari “memberitahu dan
menjual”, menjadi upaya untuk membina hubungan”
-Jim Stengel,
Pelaksana Pemasaran Global, Procter & Gamble, Februari 2007.
Saya harus membuat sebuah pengakuan. Saya
menjalani kehidupan ganda.
Ya, istri saya tahu hal ini, demikian juga
teman-teman saya, bahkan anak-anak saya yang masih berusia delapan dan enam
tahun. Mereka tahu bahwa pada siang hari, ayah mereka bergelut dengan
pemasaran. Pada malam hari, waktunya sendiri, ayah mereka akan melakukan apa
pun untuh menghindari pemasaran.
Saya adalah profesional di dalam bidang
pemasaran. Saya menjabat sebagai Kepala Ahli Strategi Pemasaran di Bridge
Worldwide, yaitu sebuah agensi pemasaran hubungan dan interaktif di Cincinnati
yang merupakan bagian dari WPP, salah satu perusahaan saham agensi terbesar di
dunia. Sebagai itu semua, saya banyak menghabiskan waktu dalam pembuatan iklan
untuk meyakinkan orang agar membeli produk dan jasa klien kami. Selama lima
belas tahun berkarier di dalam bisnis tersebut, saya telah ambil bagian di
dalam pembuatan beberapa iklan komersial yang cukup membuat risih, bahkan
menyetujui beberapa periklanan pop-up, yaitu iklan web yang muncul di jendela
baru.
Akan tetapi, sebagai seorang konsumen,
saya tidak mengindahkan atau secara aktif sedapat mungkin menghindari
periklanan yang mengganggu. Saya merupakan orang pertama yang menggunakan TiVo,
dan sekarang saya menggunakan DVR di rumah saya. Saya mendaftarkan diri sebagai
orang yang tidak boleh ditelepon oleh perusahaan untuk promosi (masuk ke dalam
daftar Do-Not-Call) ketika kali pertama diluncurkan. Saya bahkan pernah
berhenti di tempu jalan ketika mengemudi untuk merobek selebaran “Hasilkan Uang
di Rumah Sendiri” yang terdapat di ting telepon.
Saya pastilah bukan satu-satunya orang
yang melakukan hal tersebut. Konsumen masa kini berusaha memerangi pemasaran
tradisional dengan menggunakan TiVo, iPod dan remote control. Orang-orang lebih memilih untuk membaca blog
daripada koran dan memainkan Madden NFL dengan Xbox daripada menonton Monday Night Football. Daripada menunggu
ramalan cuaca pada berita jam 11, mereka lebih suka melihat perkiraan cuaca
secara real time dari situs AccuWeather.com
Ketika membuat dan berbagi isi merupakan
hal yang murah atau gratis, orang-orang telah belajar untuk setidaknya
menghindari pemasaran atau bahkan membencinya. Hal itu terjadi bukan hanya
karena mereka menemukan sampah virtual di mana-mana, mulai dari kamar mandi
hingga kotak pizza.
Itu karena kebanyakan
periklanan tradisional tidak punya makna.
Ketika saya dan 295 juta orang lainnya
yang tidak memiliki masalah disfungsi ereksi dipaksa untuk melihat iklan Viagra
selama acara Sunday Football Gam, kami sepakat bahwa kami merasa terganggu.
Apalagi saya harus menjelaskan apa itu disfungsi ereksi kepada putri saya (ini
kisah nyata). Ketika istri saya sedang merenungkan masalah Darfur mendengarkan
radio, ia tidak sedang ingin mengevaluasi pilihannya mengenai margarin.
Demikian juga saya tidak sedang ingin melihat daftar penerimaan lowongan kerja
di CareerBuilder ketika sedang melihat skor pertandingan pada ESPN.com
Jadi apa yang seharusnya dilakukan oleh
para pemasar ketika konsumen tidak hanya kebal terhadap iklan-iklan yang
disajikan, namun sdah benar-benar mengabaikannya?
Buatlah pemasaran yang penuh makna.
Versi rapi bisa dilihat dan didownload di sini
Nantikan kelanjutan isi buku "The Next Evolution of Marketing" esok hari!
Versi rapi bisa dilihat dan didownload di sini


Share to
Facebook Google+ Twitter Digg