Sunday, March 29, 2015

Buku The Next Evolution of Marketing - Daftar Isi & Pendahuluan



Artikel bersambung ini diambil dari buku "THE NEXT EVOLUTION OF MARKETING" karya Bob Gilbrieth, pakar marketing internasional.

Buku ini membahas tentang cara memenangkan hati pelanggan dengan pemasaran jujur, bersahabat dan penuh makna.

Versi ebook dari buku ini sama sekali belum ada. Namun, buku ini sangat inspiratif dan mahal manfaatnya. Saya akan mengetiknya secara manual bagian perbagian setiap hari, insya Allah.

Apa yang ditampilkan di sini hanya untuk pembelajaran saja. Mohon beli buku aslinya untuk menghargai penulis. Terima kasih, Salam Berkah!






   DAFTAR ISI
   KATA PENGANTAR
   PENDAHULUAN

   BAGIAN I
   APA ITU PEMASARAN YANG BERMAKNA?
            1.   MENGAPA PEMASARAN TRADISIONAL ITU TAK BERMAKNA
            2.   APA YANG DAPAT DILAKUKAN PEMASARAN YANG BERMAKNA UNTUK ANDA
            3.   SOLUSI PENUH MAKNA
            4.   HUBUNGAN PENUH MAKNA
            5.   PENCAPAIAN PENUH MAKNA
   BAGIAN II
   BAGAIMANA MENERAPKAN PEMASARAN YANG BERMAKNA DI DALAM BISNIS ANDA
            6.   MULAILAH DARI TITIK AKHIR
            7.   TANYAKAN SAJA
            8.   MENGHASILKAN IDE, MENYUSUN PERINGKAT DAN MENEMBAKKANNYA
            9.   MENGUKUR, MENYESUAIKAN DAN TERUS TUMBUH
            10.                MASA DEPAN PEMASARAN YANG BERMAKNA
   EPILOG
   MENAMBAHKAN MAKNA KE DALAM HIDUP ANDA
   CATATAN AKHIR
KATA PENGANTAR
Setiap kali teman-teman dan kolega-kolega saya mendengar bahwa saya sedang mengerjakan sebuah buku, pasti mereka terkejut karena saya masih punya waktu serta tenaga untuk mewujudkannya. Memang benar, di tengah kesibukan dalam pekerjaan, saya harus meluangkan waktu dan tenaga selama lebih dari dua tahun untuk menyelesaikan buku ini.
Jika menengok ke belakang, itu merupakan proyek terbesar yang pernah saya kerjakan di dalam hidup saya. Rasanya seperti maraton mental yang memerlukan latihan tahunan dan upaya yang sangat kuat, sehingga saya mampu menulis sekaligus bekerja seharian penuh sepanjang tahun di dalam bisnis yang sedang tumbuh dan berubah dengan sangat cepat. Akan tetapi, sebagaimana yang akan disetujui oleh para pemaraton lainnya, ada banyak teman, keluarga dan orang yang saya temui sepanjang perjalanan. Mereka telah memberi saya kekuatan dan dukungan untuk menyelesaikan langkah ini.
Pertama, saya harus sangat berterimakasih kepada “tim buku” saya yang telah bekerja sangat intens bersama saya selama berbulan-bulan untuk menghasilkan karya yang Anda pegang ini. Saya mulai bekerja bersama wakil saya, Lisa Dimona, hampir dua tahun yang lalu. Terima kasih juga saya ucapkan kepada anggota-anggota tim dari McGraw Hill, yaitu Mary-Glenn, Donya Dickerson, Heather Cooper, Jane Palmieri dan Stachi Sands. Selain itu, Mark Fortier merupakan pemandu yang sangat luar biasa sebagai orang yang berjaga di barisan PR. Terima kasih yang sangat istimewa saya ucapkan untuk editor saya yang bernama Lauren Rowland.
Pihak lainnya yang telah membantu mewujudkan mimpi ini adalah teman terbaik saya sejak menjadi mahasiswa tingkat awal di Duke University dan saat ni menjadi bos saya di Bridge Worldwide, yaitu Jay Woffington. Dia tidak hanya menantang saya untuk mewujudkannya, namun juga mendukung saya selama untuk mewujudkannya, namun juga mendukung saya selama pengerjaan buku ini yang telah mengalihkan perhatian terhadap pekerjaan harian saya.
Saya juga banyak mengucapkan terima kasih kepada tim eksekutif lainnya di Bridge Worldwide. Ada Peter Schwartz, Michael Graham, Steve Wolf, Michael Wilson, Jodi Schmidtgoesling dan Jason Ruebel.
Ada sangat banyak orang lainnya di Bridge Worldwide yang telah membantu saya menghadirkan konsep dan buku ini di pasar. Maka saya berterima kasih kepada Alex Rofles, Shannon Lanner, Erik Shrewsberry, Carole Amend, Taylor Clone, Marc Connor, Tiffany Brunning, Tracey Dye, Ryan Kolbe, Brad Mahler, Sarah Medley, John Sticweh, Jason Van Cleave, Chris Zievrink, Debbie Effler, Don Huesmen, James Marable, Jared Bauer, Ian “Trey” Dahlman, David Shepperd, Margaret Russo, Becky Gruebmeyer, Dennis Chacon, Gretchen Conner, Ray Seguin, Jessi Link, Nick Schultz, Brad Lark, dan Rebekah Kluesener. Saya juga harus berterima kasih kepada dua karyawan “tidak resmi” Bridge, yaitu Carolyn Hennesy dan Teresa Litzler, yang telah mengubah ide ini menjadi kekuatan pendorong bagi perusahaan kami.
Sebagai tambahan untuk keluarga dekat Bridge Worldwide, saya berutang banyak terima kasih kepada induk perusahaan kami, WPP yang menjadi besar berkat pemimin kami yang hebat yaitu Sir Martin Sorrel. Terima kasih yang istimewa kepada Tamara Ingram (Pimpinan Tim WPP’s untuk P&G), dan para penulis di WPP seperti John Steel (Truth, Lies and Advertising dan The Perfect Pitch), Allen Adamson (Brand Simple dan Brand Digital), Shane Atchison (Actionable Web Analytics), David Nichols (Brands and Gaming), Jim Taylor (Space Race), John Gerzema (The Brand Bubble) dan Nigel Hollis (The Global Brand).
Tentu saja terima kasih juga untuk Lee Aldridge, Landor, Richard Wastendorf bersama timnya, juga Ryan Turner, Gilad Kat, dan Maria Mandel yang telah berbagi dalam memberikan contoh dari pengalaman mereka tentang pemasaran penuh makna.
Ada juga rekan mahir lainnya yang turut berkontribusi di dalam projek ini. Kevin Doohan (Red Bull), Jim Stengel dan Matt Carceri (Procter & Gamble), Sanjay Puligadda (periset dari Miami University).
Saya pun akan selalu menghargai dorongan dari Jory Des Jardin, pendiri dan presiden BlogHer, yang telah melihat presentasi saya mengenai konsep ini di Athena, Yunani, 2007. Itu merupakan kali pertama saya berbagi ide di konferensi publik. Ketika ia berkata bahwa itu merupakan salah satu presentasi terbaik yang pernah dilihatnya, saya merasa bahwa kami berkesempatan untuk membuatnya menjadi besar.
Terima kasih terdalam saya tujukan kepada keluarga saya atas dukungan mereka selama bertahun-tahun. Saya berharap saya telah membuat mereka bangga dengan karya ini.
Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada Anda, para pembaca karena telah memahami kebutuhan akan perubahan. Semoga bisnis Anda menjadi lebih baik, dan karier serta kehidupan Anda menjadi lebih bermakna. Jika Anda memerlukan bantuan lebih lanjut, jangan segan untuk menghubungi saya melalui www.marketingwithmeaning.com






PENDAHULUAN
PENCARIAN ARTI

“Apa yang sangat kita butuhkan adalah perubahan pola pikir, supaya kita tetap relevan dengan konsumen masa kini. Kita harus bergeser dari “memberitahu dan menjual”, menjadi upaya untuk membina hubungan”
-Jim Stengel, Pelaksana Pemasaran Global, Procter & Gamble, Februari 2007.

Saya harus membuat sebuah pengakuan. Saya menjalani kehidupan ganda.
Ya, istri saya tahu hal ini, demikian juga teman-teman saya, bahkan anak-anak saya yang masih berusia delapan dan enam tahun. Mereka tahu bahwa pada siang hari, ayah mereka bergelut dengan pemasaran. Pada malam hari, waktunya sendiri, ayah mereka akan melakukan apa pun untuh menghindari pemasaran.
Saya adalah profesional di dalam bidang pemasaran. Saya menjabat sebagai Kepala Ahli Strategi Pemasaran di Bridge Worldwide, yaitu sebuah agensi pemasaran hubungan dan interaktif di Cincinnati yang merupakan bagian dari WPP, salah satu perusahaan saham agensi terbesar di dunia. Sebagai itu semua, saya banyak menghabiskan waktu dalam pembuatan iklan untuk meyakinkan orang agar membeli produk dan jasa klien kami. Selama lima belas tahun berkarier di dalam bisnis tersebut, saya telah ambil bagian di dalam pembuatan beberapa iklan komersial yang cukup membuat risih, bahkan menyetujui beberapa periklanan pop-up, yaitu iklan web yang muncul di jendela baru.
Akan tetapi, sebagai seorang konsumen, saya tidak mengindahkan atau secara aktif sedapat mungkin menghindari periklanan yang mengganggu. Saya merupakan orang pertama yang menggunakan TiVo, dan sekarang saya menggunakan DVR di rumah saya. Saya mendaftarkan diri sebagai orang yang tidak boleh ditelepon oleh perusahaan untuk promosi (masuk ke dalam daftar Do-Not-Call) ketika kali pertama diluncurkan. Saya bahkan pernah berhenti di tempu jalan ketika mengemudi untuk merobek selebaran “Hasilkan Uang di Rumah Sendiri” yang terdapat di ting telepon.
Saya pastilah bukan satu-satunya orang yang melakukan hal tersebut. Konsumen masa kini berusaha memerangi pemasaran tradisional dengan menggunakan TiVo, iPod dan remote control. Orang-orang lebih memilih untuk membaca blog daripada koran dan memainkan Madden NFL dengan Xbox daripada menonton Monday Night Football. Daripada menunggu ramalan cuaca pada berita jam 11, mereka lebih suka melihat perkiraan cuaca secara real time dari situs AccuWeather.com
Ketika membuat dan berbagi isi merupakan hal yang murah atau gratis, orang-orang telah belajar untuk setidaknya menghindari pemasaran atau bahkan membencinya. Hal itu terjadi bukan hanya karena mereka menemukan sampah virtual di mana-mana, mulai dari kamar mandi hingga kotak pizza.
Itu karena kebanyakan periklanan tradisional tidak punya makna.
Ketika saya dan 295 juta orang lainnya yang tidak memiliki masalah disfungsi ereksi dipaksa untuk melihat iklan Viagra selama acara Sunday Football Gam, kami sepakat bahwa kami merasa terganggu. Apalagi saya harus menjelaskan apa itu disfungsi ereksi kepada putri saya (ini kisah nyata). Ketika istri saya sedang merenungkan masalah Darfur mendengarkan radio, ia tidak sedang ingin mengevaluasi pilihannya mengenai margarin. Demikian juga saya tidak sedang ingin melihat daftar penerimaan lowongan kerja di CareerBuilder ketika sedang melihat skor pertandingan pada ESPN.com
Jadi apa yang seharusnya dilakukan oleh para pemasar ketika konsumen tidak hanya kebal terhadap iklan-iklan yang disajikan, namun sdah benar-benar mengabaikannya?
Buatlah pemasaran yang penuh makna.

Nantikan kelanjutan isi buku "The Next Evolution of Marketing" esok hari!

Versi rapi bisa dilihat dan didownload di sini


Share to

Facebook Google+ Twitter Digg