| SUARA MAHASISWA, Subsidi Peternakan |
|
|
| http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/485924/ | |||||||||||||
| Sektor yang sangat perlu dipikirkan untuk diberikan subsidi agar
kesejahteraan rakyat meningkat adalah sektor peternakan. Dengan tanah
Indonesia yang luas dan subur serta rakyatnya yang ulet,potensi sektor
peternakan untuk memajukan perekonomian sangatlah besar. Tidak hanya mencapai kemandirian pangan atau mengurangi pengangguran, bahkan jauh lebih dari itu. Banyak karya anak bangsa yang mendapatkan pengakuan internasional untuk kreativitas mereka di sektor peternakan. Seperti mengubah kotoran ternak menjadi kertas,biogas,bahan bangunan,hingga gerabah berseni tinggi. Tetapi,angan tidak seindah kenyataan di lapangan. Sektor peternakan masih kesulitan untuk mengoptimalkan manfaat yang bisa diberikan. Data BPS Jawa Barat pada Maret 2012 mengungkapkan, nilai tukar pertanian (NTP) sektor peternakan adalah 98,04,di bawah angka ideal 100.Hal ini mengindikasikan peternak Jawa Barat masih harus menerima keuntungan yang kecil dari usahanya karena biaya produksi yang lebih besar daripada harga jual yang mereka terima. Hal yang perlu diapresiasi dari pemerintah adalah kemauan Kementerian Pertanian untuk memberikan subsidi sebesar Rp1 triliun.Namun, subsidi ini tidak tepat guna. Bentuk pemberian subsidi ini adalah pengurangan beban bunga perbankan sehingga untuk menikmati subsidi ini terlebih dahulu harus mendapatkan kredit.Sedangkan kredit ini pun sangat sulit didapatkan. Misalnya dari 27.000 peternak sapi perah di Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jabar,tidak satu pun yang mendapat pinjaman modal.Direktur Pembiayaan Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Mulyadi Hendiawan menyatakan bahwa realisasi Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS) sebesar 7,2% dari plafon Rp3,822 triliun atau baru sebesar Rp0,27 triliun. Hal ini disebabkan peternak sapi perah masih dinilai tidak bankable dan layak untuk mendapat kucuran kredit. Solusi yang ditawarkan agar subsidi ini bisa optimal adalah pemberian subsidi untuk pengadaan bibit ternak,pakan,obat-obatan, dan sarana lainnya. Memudahkan akses peternak ke permodalan juga perlu dipikirkan. Lembaga keuangan yang dekat dengan peternak, dan tidak adanya sistem agunan/jaminan proses yang singkat, cepat,dan tanpa banyak prosedur perlu banyak didirikan. Tentu akan lebih baik jika digunakan sistem bagi hasil,bukan bunga. Jangan lupakan insentif penelitian untuk pengembangan peternakan. Subsidi sarana untuk pemanfaatan limbah peternakan juga penting. Bisa menjadi pupuk untuk mengurangi biaya pertanian atau biogas sebagai sumber energi alternatif yang sangat krusial saat ini. Solusi-solusi ini akan semakin efektif jika diintegrasikan dengan komunitas peternak. Hal tersebut akan meminimalisasi risiko kesalahan pendistribusian subsidi untuk kebutuhan peternak,dan kecurangan peminjaman modal.SASONO ARISANDI Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM |



Share to
Facebook Google+ Twitter Digg