Bertepatan dengan 40 tahun meninggalnya salah satu orang yang sangat berjasa untuk UGM, Bangsa Indonesia dan Dunia, Prof. dr. Sardjito.
*Pas gue masih Nasionalis dan belum tahu apa arti Nasionalis sebenarnya huahaahah*
Suatu ketika, di selasar kampus tercinta terjadi sebuah perdebatan sengit, sangking sengitnya bisa bikin otak singit (?), antara seorang mahasiswa ganteng dan mahasiswa bermuka pas-pasan.
Mahasiswa bermuka pas-pasan itu berkata: ". . .ahh tapi kalo di BEM itu cakupannya terlalu luas, jadi makan banyak waktu. Kalau di organisasi aku ini gak terlalu makan waktu. Jadi, kalau di organisasiku dengan waktu yang sedikit ini aku bisa dapetin soft skill yang setara dengan di BEM. buat apa aku masuk BEM?"
Mahasiswa Ganteng itu pun tersentak lalu berfikir "sepicik itu kah pemikiran mahasiswa saat ini? Segalanya hanya dilihat bagaimana untungnya untuk dirinya saja? Menurut penerawangan saya (Dasar dukun), tingkat keberhasilan seseorang bukanlah diukur dari bagaimana hebatnya soft skill yang dia miliki,atau ekstrimnya seberapa besar harta yang dia miliki, tetapi menurut saya, tingkat keberhasilan seseorang adalah seberapa besar dia bermanfaat untuk orang lain" (Semoga aja mahasiswa ganteng ini gak munafik yaa. Memang siapa sih mahasiswa ganteng ini? Yaa udh pasti penulisnya :p *Teriakan "NAJIS" menggema. Pot bunga beterbangan*). Tetapi, saya memilih lebih baik diam tanpa mengkritiknya karena kritik adalah sesuatu yang percuma. Kritik hanya akan melukai rasa kebanggaan seseorang, melukai perasaan pentingnya, dan membangkitkan rasa benci.
Disini saya bukannya mau mempromosikan BEM dan menyebut organisasi lain itu jelek. Karena terbukti dengan ruang lingkup yang bisa mereka handle pun mereka bisa berkontribusi positif dengan maksimal. Tetapi, yang ingin saya singgung pada tulisan saya ini adalah tentang bagaimana pemikiran beberapa mahasiswa yang masih egosentris. Dimanakah letak semangat mahasiswa yang seharusnya menjadi Agent of Change bangsa ini? Apakah semangat mahasiswa yang ada pada orang tua kita mengecap bangku kuliah dulu yang untuk bisa mengecap pendidikan harus berjuang layaknya barang sewaan yang kini masa sewanya sudah habis sehingga diambil kembali oleh Sang Pencipta?
Kawanku yang luar biasa, di pundak kita bergantung harapan jutaan Rakyat Indonesia yang mengharapkan suatu tindakan nyata dari apa yang kita bisa dapatkan sebagai orang yang beruntung bisa menikmati indahnya pendidikan. Dan sekarang, disaat di luar sana masih banyak rakyat kecil berjuang membanting tulang hanya demi sesuap nasi yang menjadi perkara hidup dan mati, bersahabat dengan kemiskinan, berbahagia dalam kesengsaraan. Masih tegakah kita untuk berdiam diri, pura-pura tak peduli terhadap apa yang mereka alami? Atau menyibukkan diri hanya untuk memperkaya diri sendiri lalu berjanji bahwa apa yang kita dapat hari ini akan kita dedikasikan pada negeri ini nanti, yang entah apa itu benar benar akan terjadi atau hanya akan menjadi seperti bualan belaka tokoh-tokoh yang kau hina hari ini (Huooooo! Jilat ludah sendiri!). Jadi, mengapa tidak kau lakukan mulai SEKARANG. Sekarang adalah langkah awal kesuksesan dan nanti adalah representatif dari kata kegagalan, tidak pernah. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa sejarah baru yang Anda catatkan.
Lalu apakah dengan semangat saja cukup?
Eng ing eng! Kita sampai pada point ini, point yang terkadang bila kita melihat berita tentangnya akan membuat kita tertawa lebih keras daripada kita melihat BUKAN EMPAT MATA atau komedi lainnya (Kalau saya sih begitu, gatau deh dengan Anda). Tentang apa sih? Apalagi kalau bukan tentang pergerakan mahasiswa yang asal-asalan melakukan aksi jalanan, bakar-bakaran ban, bawa-bawa saudara sesama hewan (Upss, maaf!), atau aksi asal-asalan lainnya terserah Anda . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . point of view yang menurut kita benar. Karena tentu saja, Kekerasan tidak akan mempan bila dilawan dengan kekerasan, melainkan dengan cinta (Prikitieewww!). Sedikit rangkuman dari buku favorit saya "Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain" yang mungkin pas untuk menjadi bahan renungan kita pada kasus ini. Semua orang bodoh bisa mengkritik, mencerca dan mengeluh dan hampir semua orang bodoh melakukannya. Namun perlu karakter dan kontrol diri untuk mengerti dan memberi maaf. Tuhan sendiri tidak menghakimi orang hingga tiba pada akhir harinya. Mengapa saya dan Anda harus melakukannya? Atau mungkin saja, mahasiswa-mahasiswa yang melakukan itu adalah mahasiswa yang sungguh sangat memprihatinkan bahkan hingga menjawab ujiannya pun seperti ini "4duUUuwwWhHh! 6u33E B1nGun6 b9dhzZzz 54m4h Uj14n k4Alee eNehhhzZzzZ!!!! D0sEnn WueEeda4nnn!" (Waduhhh itu sih jawaban UTS gue kemarin. Hahaha, udah cukup ahh ngehinanya).
Wetttsss! Walaupun begitu, statement saya di atas bukannya tanpa bukti. Mau bukti? Hmmm, kita mulai dengan yang sedang hangat saat ini. Yaitu kasus Bu Sri Mulyani. Ketika Bu Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan RI yang saat ini disangkutpautkan dengan Kasus Century karena beliau selaku Ketua KSSK pada saat kasus Bank Century terjadi dinilai bertanggungjawab akan kasus itu. Banyak mahasiswa mendemo, berkoar-koar menuntut diturunkannya beliau. Lahh sekarang, ketika kini beliau memenuhi permintaan para pendemo itu untuk turun dari jabatannya didemo menehhhhh. Jujur aja, kalau saya ada di posisi Bu Sri Mulyani saya akan nyerocos "KAREPMU PIYE TOH LEEEE? TURUN SALAH, GAK TURUN SALAH"
Begitu juga dengan Pak Boediono, Sedikit kisah nyeleneh yang terjadi di kostan saya yang mewah (MEpet saWAH). Ketika itu saya dan teman-teman kostan lagi asyik nonton berita di tipi. Muncullah berita tentang Pak Boediono yang didemo oleh para demonstran yang sungguh anarkis sampai membuat meringis hingga terpipis-pipis (Mulai deh gak jelasnya). Kontan membuat teman saya itu yang katanya TERPAKSA menjadi CALON Ketua BEM Pertanian UGM tahun 2008 berkata "Beuhhh kalo gue jadi Pak Bud, gue pasti bilang (Sambil nunjuk ke saya) 'Wong mahasiswa dekil-dekil gini kok mau lawan gue? Lawan dulu nih mahasiswa gue yang paling bego. IPnya cuma 2,05. UAS Matek ketiduran. Baru lawan gue.'" (Beuhhh! Ini lagi lebih dodol asli komentarnya. Orang mirip sama
Kesimpulan
Yaaaa intinya, marilah kita perbaiki cara kita. Saya sangat mengapresiasi maksud kalian yang telah peduli terhadap pergejolakan bangsa ini. Tetapi, niat baik saja tidaklah cukup bila tidak diikuti dengan cara yang baik. Kritik, debat, asal klitik, asal babat. Itu semua klasik. Dan, sejarah membuktikan bahwa hal itu tidaklah selalu berguna. Mengutip kata-kata dari Abraham Lincoln "Jangan mengkritik mereka., mereka hanya bertindak dengan cara yang sama seperti yang akan kita lakukan kalau kita berada dalam situasi yang sama"Kenapa kita tidak mulai dari diri kita sendiri, mulai dari yang kecil, mulai dari sekarang!
Sahabatku yang di dalam dirinya tersimpan potensi untuk mengubah dunia.
Tentu membuat bangsa ini maju pasti akan sangat sulit. Akan datang ribuan rintangan yang membuat kita merasakan arti kegagalan. Tetapi, menurut Anda apa arti kegagalan itu sendiri? Saya biasa menganalogikan begini: Apa yang membuat bintang makin terang bersinarnya? Menurut saya, kegelapan. Semakin malam, semakin gelap maka semakin terang bintang tersebut. Begitu juga kesuksesan. Semakin banyak kegagalan yang kita hadapi, akan semakin indah kesuksesan kita. Maka jadikanlah setiap kegagalan yang engkau alami menjadi kegelapan yang membuat bintang kesuksesanmu semakin terang!
Saya akui, ketika saya melihat tulisan saya sendiri. Saya merasa tersindir. Apakah benar yang saya tuliskan ini telah saya lakukan? Ataukah saya hanya menulis sampah yang keluar dari mulut saya sendiri tanpa saya mengerti betul apa yang saya tuliskan. Ataukah saya hanya mendustai perkataan demi datangnya sebuah pengakuan? Saya sendiri berat untuk mengetik tulisan ini karena saya takut akan pertanggungjawaban yang harus saya tanggung di depan Pencipta nanti. Akankah saya menjadi orang yang munafik? Ahh, saya tidak tahu. Yang saya tahu, diri saya saat ini sangatlah jauh dari apa yang bangsa ini harapkan kepada saya.
Izinkanlah saya dengan segala kerendahan hati mengakhiri tulisan ini dengan berjanji, "Saya akan berjuang demi perbaikan Bangsa dan Negara, sebatas dengan kemampuan dan pengetahuan saya yang dinamis"

Share to
Facebook Google+ Twitter Digg