Thursday, July 21, 2011

Mahasiswa Harapan Bangsa

*Lagi-lagi pas saya masih Nasionalis dan belum tahu apa itu arti Nasionalis sebenarnya huahahaha*

Artikel ini juga dimuat di http://kampus.okezone.com/read/2010/08/09/367/361045/mahasiswa-harapan-bangsa

Tulisan ini saya dedikasikan untuk menyambut Mahasiswa-Mahasiswa Baru FEB UGM 2010 yang akan meneruskan jejak perjuangan mahasiswa sebelumnya dan juga sebagai wujud permintamaafan saya karena kemarin mecahin lampu taman fakultas T_T


KITA tidak dapat membohongi sejarah yang bercerita tentang kekuatan potensi para pemuda terpelajar. Sejarah telah mencatatkan hasil kerja keras para pemuda terpelajar tersebut dengan tinta emas.

Keberhasilan itu antara lain menjatuhkan rezim yang bertindak tiran kepada rakyat. Sebutlah penggulingan Presiden Argentina Juan Peron (1955), Presiden Venezuela Perez Jimenez (1958), Presiden Pakistan Ayub Khan (1969), Presiden Iran Reza Pahlevi (1979), Presiden Filipina Ferdinand Marcos (1986), Presiden Korea Selatan Chun Doo-hwan (1987) dan masih banyak lagi. Di Indonesia sendiri, keberhasilan para pemuda terpelajar (mahasiswa) adalah gerakan reformasi pada 1998 untuk menggulingkan Soeharto.

Jadi, bukanlah tidak mungkin bila mahasiswa Indonesia bisa menjadi pahlawan revolusi yang menjadikan Indonesia sesuai dengan cita-cita The Founding Fathers sebelumnya. Terlebih lagi, ketika jutaan rakyat Indonesia menderita yang membutuhkan jawaban akan permasalahan segera. Karena setiap detik berarti penderitaan,setiap menit berupa perjuangan, setiap hari penuh pertanyaan. Pertanyaan apakah esok hari aku bisa memberi makan keluargaku lagi.

Di tiap diri para mahasiswa teremban amanah dari seluruh rakyat Indonesia. Karena dari pajak yang rakyat setorkan, mereka percayakan untuk dialokasikan pada pendidikan. Berdasarkan APBN-P 2010 dana yang dialokasikan untuk Perguruan Tinggi adalah Rp2,069 trilIun. Terlepas dari dana yang terselip di kantong pejabat yang licik. Sehingga mengakibatkan tidak optimalnya penggunaan dana alokasi pendidikan sehingga masih menyisakan jutaan pemuda Indonesia tanpa pendidikan. Bagi mereka bangku sekolah hanya sekedar impian.

Maka, sangatlah durhaka bila mahasiswa yang diberi keberuntungan dari jutaan pemuda lainnya yang tidak bisa mengecap nikmatnya dunia pendidikan hanya berfikir tentang hidupnya semata atau paling banter untuk keluarga tetapi masa bodoh dengan bangsa Indonesia. Apalagi sampai-sampai memegang teguh prinsip “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga.” Tetapi, janganlah engkau menaruh amanah itu di pundakmu, karena engkau akan merasa terbebani olehnya. Namun, taruhlah amanah itu didalam hati, sehingga engkau mengemban amanah itu dengan sepenuh hati.

Lalu apakah yang harus mahasiswa lakukan demi mengemban amanah itu? Sebagai bagian masyarakat yang diberikan keberuntungan untuk mengecap pendidikan tertinggi. Maka, mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual atau kaum cendekiawan oleh masyarakat. Gabungan antara kesadaran akan amanah dari rakyat untuk Indonesia yang lebih baik dan kesempatan menjadi kaum intelektuallah yang bisa menjadi kekuatan hebat untuk menjadikan Indonesia hebat. Oleh karena itu, wajib hukumnya mahasiswa untuk turut melakukan fungsi-fungsi kaum intelektual. Menurut Edward Shills (Shills, E., 1980:27-38) fungsi kaum intelektual, antara lain:

1. Menciptakan dan menyebar kebudayaan tinggi dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi,
2. Menyediakan bagan-bagan nasional dan antar bangsa melalui kawasan terpadu,
3. Membina keberdayaan bersama,
4. Mempengaruhi perubahan sosial, dan
5. Memainkan peran politik.

Wahai sahabat-sahabatku, para mahasiswa yang di tangannya tergenggam arah bangsa.

Pernahkah terlintas di benak kalian mengapa kita terlahir di Indonesia? Mengapa Tuhan mengirim kita ke negara yang memiliki julukan “Sebongkah tanah yang dicampakkan dari Surga.” Negara dengan berjuta problematika dimana kejujuran dan integritas adalah barang langka.

Semakin lamaku merenungi pertanyaan tersebut, semakin aku sadar bahwa Tuhan mengirimku di negeri ini untuk satu tujuan. Tuhan memberikan mahasiswa Indonesia tantangan. Tantangan untuk meneruskan perjuangan para pahlawan yang kini seperti tak diemban oleh para dewan. Tantangan untuk membuat Indonesia untuk bangkit dan berlari mengejar ketertinggalan yang semakin besar setiap hari.

Masih ingat dengan perkataan Tuhan yang berisi “Sesungguhnya Aku tidak pernah memberi cobaan kepada kaumku melebihi kemampuan kaum tersebut”? Dari kalimat tersebut, dapat disimpulkan bahwa setiap Tuhan memberikan cobaan selalu diiringi dengan pemberian kemampuan untuk menghadai cobaan tersebut. Jadi, apabila banyak orang yang bilang bahwa Indonesia adalah negara dengan masalah terpelik di dunia. Maka kita adalah bangsa dengan kemampuan tertinggi.

Mulai sekarang percayalah kepada kemampuan kalian. Berhentilah saling menyalahkan. Bersama-sama melakukan pergerakan demi sebuah harapan. Harapan akan perubahan. Perubahan yang membawa kebaikan dalam semua segi kemanusiaan di negeri kita tercinta dan juga dunia.

I don`t expect Indonesia to be perfect, but I must be perfect for Indonesia.
Aku bangga menjadi Bangsa Indonesia.
Aku bangga menjadi Mahasiswa Indonesia.


Sasono Arisandi
Mahasiswa jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM

Share to

Facebook Google+ Twitter Digg